(yahoonews.com)
Sebuah perusahaan AS mengembangkan robot seks pertama di dunia. Boneka karet seukuran manusia normal berbanderol Rp 67,2 juta - Rp 86,4 juta itu diotaki sebuah laptop.
Dalam sebuah demonstrasi di Adult Entertainment Expo do Las Vegas, robot berambut hitam berpakaian piyama tidur mengatakan, “Saya suka memegang tanganmu.”
Robot tersebut berbicara setelah penciptanya menyentuh tangannya.
Roxxxy si robot memang mendemonstrasikan level kemampuan yang rumit daripada mainan anak yang bisa berbicara. Roxxxy memiliki kapabilitas lebih tinggi karena ada sebuah laptop yang terhubung dengan kabel melalui belakang tubuhnya.
Kabel tersebut menyentuh lokasi strategis dengan sensor dan dapat dirasakan ketika bergerak. Tapi robot tidak bisa berpindah sendiri atau menggerakan kepala atau bibir. Suara berasal dari pengeras suara internal.
Douglas Hines pendiri Lincoln Park mengatakan Roxxxy dapat melakukan pembicaraan sederhana. Tujuan utamanya adalah membuat boneka menjadi seseorang yang dapat diajak berbicara atau berhubungan oleh pemiliknya.
“Seks akan semakin menyenangkan jika kita berbicara dengan pihak lawan,” ujar Hines.
Frasa kata yang berhasil didemonstrasikan sebelumnya telah direkam, tetapi robot juga bisa mensitesiskan frasa kata dan suara tersebut. Laptop akan menerima pembaharuan melalui internet untuk memperlebar kapabilitas robot dan kosa kata.
“Karena aku adalah penggemar sepakbola, maka robot tersebut siap berdiskusi tentang Manchester United. Robot tersebut juga mendengkur,” ujar Hines.
Pemilik dapat memilih berbagai jenis kepribadian Roxxy, mulai dari ‘Wild Wendy’ hingga ‘Frigid Farah’. Harga robot tersebut berkisar antara US$ 7000 (Rp 67,2 juta) hinga US$ 9000 (Rp 86,4 juta) termasuk laptop. Diharapkan produk ini bisa dipasarkan dalam beberapa bulan ke depan.
Sebuah perusahaan Jepang, Honey Dolls membuat boneka seks seperti hidup yang juga mengeluarkan suara rekaman, tetapi kapabilitas sensor dan ucapan Roxxxy lebih sulit.
Sebagai seorang insinyur Hines mengatakan bahwa dia terinspirasi untuk menciptakan robot tersebut setelah seorang teman meninggal pada bulan September.
Hal tersebut membuatnya berpikir menyediakan kepribadian temannya tersebut untuk memberikan kesempatan kepada anak-anaknya berinteraksi ketika mereka tumbuh dewasa. Kemudian terpikir membuat kepribadian buatan untuk tujuan komersial, Hines lalu mencoba membuat pembantu kesehatan bagi orang jompo.
“Tetapi ada banyak hal yang menghambat secara birokrasi dan regulasi. Kami macet,” ujar Hines. “Jadi mencari bentuk pasar lain.”
Tujuan jangka panjang perusahaan adalah tetap pada memasukkan kepribadian buatan ke dalam alat seks. “Robot seks adalah pasar, sangat nyaman dijadikan mitra,” ujar Hines.
Dalam buku yang diluncurkan tahun 2007 ‘Love and Sex with Robots’, pemain catur Inggris dan ahli rekayasa buatan David Levy berargumen bahwa robot akan menjadi partner seks signifikan untuk manusia, menjawab kebutuhan orang yang tidak terpuaskan.[ito]
No comments:
Post a Comment