Tidak Melihat Bukan Berarti Tidak Bisa Menguasai


indosiar.com - Beberapa tahun yang lalu, sebagian penyandang tuna netra mungkin tak pernah bermimpi bisa menggunakan komputer atau bahkan menjelajah dunia maya lewat internet. Tapi kini dengan satu program khusus, mereka bahkan bisa berlomba keahlian mengoperasikan komputer.

Adi (29), adalah penyandang tuna netra asal Jakarta yang terus berusaha keras belajar menguasai komputer. Meski memiliki keterbatasan dalam penglihatan, mahasiswa semester akhir di Universitas Atmajaya Jakarta itu tidak kalah dengan mereka yang memiliki indera mata normal.

Kepada indosiar.com, Adi menceritakan mengenai ketertarikannya pada komputer yang berawal di tahun 2004. Kala itu, ia memiliki seorang teman tuna netra, yang berhasil menguasai komputer dan mengakses internet dengan program khusus, hingga mampu menjadi seorang wartawan.

Dari sekedar rasa ingin tahu, ia menyadari ternyata komputer itu bukan suatu momok yang ditakuti, tetapi merupakan suatu teknologi yang akan membantu untuk masa depan. Apalagi, masih ada kemunculan software synthesizer bernama JAWS atau sceen reader yang bisa bicara atau didengar. Dari situ, keinginan dan motivasi untuk belajar komputer semakin bertambah.

Adi mengaku kalau belajar komputer sangat sulit dan aneh. Karena selain harus menggunakan bahasa Inggris, masih ada langkah-langkah lain yang lebih rumit. Sempat berpikir semua itu mustahil dan malas belajar, namun keinginannya untuk belajar bangkit setelah mendengar teman-teman senasib mampu mengakses internet.

Pria lajang yang tinggal di jalan Kramat No.12 RT04/RW02 Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur ini semakin giat belajar komputer dan internet pada awal tahun 2006. Ia pun getol mengotak-atik komputer, mencoba berbagai program dan berlatih secara otodidak hingga akhirnya mahir menggunakan peralatan multimedia.

Menurut Adi yang sejak usia 7 bulan mengalami hambatan penglihatan, tahap pertama yang dipelajari adalah hardware, monitor, CPU, keyboard. Khusus bagi tuna netra, digunakan software pembaca layar.

Setelah cukup mahir, Adi bisa melakukan berbagai hal dan merasakan bahwa komputer itu benar-benar indah, terutama bagi seorang tuna netra sepertinya. Baginya, selain memperoleh informasi, komputer juga membantunya mengerjakan skripsi, mengarang, atau mendengarkan musik.

"Meraih sesuatu dengan kesempurnaan (penglihatan, Red.) memang hebat, tetapi kalau meraih sesuatu dengan kekurangan (tuna netra) itu baru luar biasa," ujar Adi. "Pokoknya saya akan terus belajar dan mencari informasi. Kalau kesulitan, saya tanya ke teman yang lebih berpengalaman."

Kembali ke penggunaan internet, bagi Adi yang terpenting adalah akses informasi. "Dengan internet itu, kita bisa mencari informasi yang kita inginkan sendiri, meski informasi yang ada sekarang sebagian besar tidak bisa diakses oleh tuna netra," kata Adi.

Namun dengan hadirnya alat yang namanya open book yang bisa di-scan dan bisa dibacakan lewat sceen reader (JAWS), para tuna netra dimungkinkan bisa membaca buku seperti yang ada di Perpustakaan Pendidikan Nasional milik Depdiknas yang bekerjasama dengan Mitra Netra.

Ditambahkan Adi, tujuan akhir dari belajar komputer adalah supaya bisa 'bertahan hidup' di dunia maya, bahkan bisa berhubungan dengan orang-orang di luar negeri. Jadi, sebenarnya tidak ada istilah kalau orang yang memiliki hambatan penglihatan tidak bisa menguasai komputer. Kemajuan teknologi juga telah membuat penyandang tuna netra bisa melakukan pekerjaan yang dulu nyaris tidak mungkin dilakukan, misalnya menjadi wartawan, administrasi, hingga penulis artikel.

Saat ini, Adi mengaku sedang mempelajari HTML dan membuat situs kecil-kecilan. "Ketika saya ingin melakukan sesuatu dengan alat bantu komputer harus diperdalam, misal Word, formatting, editing adalah masalah kecil. Tapi bagaimana mempresentasikan pakai PowerPoint, transition dan colorskin-nya gimana?" ujarnya sambil menyebut sejumlah istilah di bidang teknologi informasi.

Manfaat internet tentunya sangat banyak, tapi menurut Adi yang paling terpenting adalah mengatasi masalah mobilitas penyandang tuna netra. Dengan memanfaatkan internet, mereka tidak perlu lagi bersusah-payah bepergian jauh untuk memenuhi kebutuhannya.

Sayangnya, fasilitas internet untuk tuna netra sendiri masih terbatas di tempat tertentu saja. Di fasilitas milik pemerintah pun, program untuk penyandang cacat yang satu ini belum ada, masalah biaya memang masih menjadi kendala.

Setelah mengenal komputer, Adi menuturkan bisa memandang hidup lebih positif, menambah pengetahuan baru serta bisa memanfaatkan pengetahuan itu berhubungan dengan orang lain. Tujuan akhirnya adalah bisa meningkatkan harkat dan martabat di masa yang akan datang.

Adi masih memiliki harapan lain yang lebih tinggi yaitu bisa melanjutkan sekolah hingga S1, S2, dan S3 dengan beasiswa. Jika ada pekerjaan yang bisa diakses oleh kemampuan para tuna netra lewat komputer akan lebih membanggakan. Harapan ini tentunya diharapkan bisa mendapat dukungan dari semua pihak.(Suprihatin/mdL/Idh)

No comments:

Post a Comment