Jamaludin Cahya, Bocah Autis dan Lumpuh yang Jago Desain

Sabet Juara Nasional, Dilirik Majalah Anak


Menderita cacat tubuh tak berarti tidak bisa berprestasi. Lihat saja Jamaludin Cahya. Meski menderita autis dan kakinya lumpuh, bocah 14 tahun siswa Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Semarang itu dilirik untuk menjadi desainer sampul sebuah majalah anak.


AKROM HAZAMI

---

Lingkungan SLBN Semarang di Jalan Elang Raya, Mangunharjo, Tembalang, tampak tenang siang itu. Di salah satu ruangan, seorang bocah lelaki tampak asyik di depan laptop.

Saking asyiknya, dia seperti tidak sadar ada yang mendekati. Tampaknya, dia tengah membuat desain sebuah bangunan dengan program komputer khusus desain. Dialah Jamaludin Cahya, salah seorang siswa SLBN tersebut.

Menurut Kepala SLBN Semarang Ciptono, kemampuan Cahya di atas rata-rata anak yang normal sekalipun. ''Saya saja, gurunya, tidak bisa mendesain sebagus yang diciptakan Cahya. Perhatikan saja caranya memanfaatkan software itu,'' katanya mengagumi kemampuan anak didiknya.

Bocah autis yang kedua kakinya lumpuh tersebut memang luar biasa. Dia sangat terampil mendesain. Kemampuan itu didapatkan dari Ismail, ayahnya, yang bekerja sebagai desainer ukir kayu di Jepara. Tapi, kini kemampuan Cahya sudah menyalip sang ayah.

Dengan kemampuan tersebut, Cahya telah mencatat sederet prestasi. Dia pernah menjadi juara desain grafis tingkat Keresidenan Pati, juara desain grafis tingkat Jateng, dan juara desain grafis tingkat nasional. Semua prestasi itu dicatat pada 2009 untuk kategori tingkat siswa SLB.

Anak ketiga pasangan Ismail dan Mustafidah itu asli Kabupaten Jepara, sekitar 100 kilometer dari Semarang. Pada 2009, Cahya dipindahkan ke SLBN Semarang dengan harapan kemampuannya di bidang desain grafis berkembang lebih baik.

''Benar juga. Setelah di SLBN Semarang, bakat Cahya kian bersinar. Beberapa penghargaan diraih. Laptop yang dia mainkan itu pemberian Ibu Bibit Waluyo (istri gubernur Jateng, Red),'' jelasnya.

Berkat kepiawaiannya menggambar desain, Cahya berkesempatan berkeliling kota, baik untuk unjuk kebolehan maupun menerima penghargaan. Terakhir, dia diminta menghadiri acara Kick Andy. ''Saya harus selalu mendampingi di mana pun dan kapan pun,'' ujar Ciptono.

Saat ini, kata dia, Cahya dilirik sebuah majalah anak di Jakarta. Di majalah itu, Cahya akan dipercaya menjadi desainer sampul. ''Cahya menderita lumpuh laya. Namun, dia tidak pernah menyerah. Dia sangat getol bikin desain. Seolah tiada hari tanpa mendesain bagi dia,'' katanya.

Jika tidak dipaksa tidur karena besok pagi harus sekolah, kata Ciptono, si bocah bisa 24 jam penuh di depan laptop. ''Kalau sudah menghadap laptop, dia bisa lupa segalanya,'' ujarnya.

Untunglah, Mustafidah, sang ibu, bersedia mendampingi tinggal di asrama SLB. Jadi, soal makan tidak perlu dikhawatirkan. Saat ditanya makanan favoritnya, Cahya bilang, ''Daging ayam.'' Menurut Ciptono, yang dimaksud adalah opor ayam. (isk/jpnn/c5/soe)

No comments:

Post a Comment