Empat Mitos Perceraian

Sebagian pasangan menganggap perceraian sebagai jalan keluar terbaik atas masalah rumah tangga yang terus memburuk. Tapi, keputusan berpisah itu tak bisa dilakukan dengan gegabah. Perlu pemikiran matang.

Sebelum mengambil keputusan final, simak beberapa mitos tentang perceraian berikut ini, seperti dikutip dari laman Shine.

1. Butuh biaya mahal

Banyak pasangan memikirkan biaya perceraian yang mahal, setidaknya untuk membayar pengacara. Itulah mengapa selalu disarankan untuk mengedepankan penyelesaian kekeluargaan. Kalaupun perceraian sudah menjadi pilihan, jalan kekeluargaan tetap diperlukan untuk meniadakan jasa pengacara. Jika pasangan sudah memiliki kesepakatan kompak di luar pengadilan, biaya pun relatif lebih kecil.

2. Psikologis anak terganggu

Banyak pasangan bertahan dalam rumah tangga buruk dengan alasan demi kebahagiaan anak. Padahal, lingkungan rumah tangga yang buruk justru akan memengaruhi psikologis anak. Ada penelitian menunjukkan bahwa anak yang tinggal di lingkungan penuh luapan emosi orangtua akan terganggu mentalnya.

Jika usaha mengembalikan keharmonisan rumah tangga sudah maksimal, memang sebaiknya tak memaksakan kondisi. Jangan sampai pertengkaran orangtua tanpa henti mengganggu psikologis anak. Ketika Anda mengalami situasi 'panas' dengan suami tanpa henti, Anda harus segera mencari solusi untuk membebaskan anak dari situasi rumah tangga yang kacau. Kadangkala, perpisahan justru lebih baik untuk anak.

3. Mudah bercerai jika tak punya anak

Seringkali, memiliki anak membuat proses perceraian menjadi rumit, karena perlu mengurus hak asuh anak. Tapi, bukan berarti pernikahan tanpa anak lebih mudah melalui proses perceraian. Berpikir matang sebelum memutuskan perceraian tetap penting.

4. Silaturahmi dengan mantan pasangan putus

Perceraian mungkin akan membuat hubungan antarkeluarga menjadi canggung. Meski tak semua perceraian merusak silaturahmi, namun, sebagian besar mengalami ini. Yang pasti, dinamika hubungan Anda pasti akan berubah. (pet)


Sumber
VIVAnews

Cara Kreatif Agar Anak Mau Dengarkan Anda


Sekarang ini orangtua perlu meningkatkan kreativitas komunikasi dengan anak-anak di rumah. Tujuannya supaya anak tetap mau terbuka dan mendengarkan nasihat orang tua. Selain itu, untuk menjaga komunikasi tetap intensif.

Sebagai contoh, sekarang ini banyak anak lebih memilih bentuk komunikasi elektronik sebagai sarana untuk mempertahankan dan memperkuat hubungan. Media komunikasi ini menggantikan percakapan langsung melalui tatap muka dan kontak mata.

Nah, jika ingin semua saluran komunikasi tetap terbuka dan anak-anak bisa memahami, Anda harus berbicara dalam 'bahasa' mereka. Tapi, juga tergantung pada usia anak dan tingkat kematangannya. Berikut adalah beberapa teknik kreatif yang dapat digunakan orang tua agar 'didengar' anak, dikutip dari Hybridmom.

Percakapan elektronik

Jika buah hati pintar mengoperasikan komputer dan menghabiskan banyak waktunya membangun hubungan via online, kemungkinan besar ia akan menerima Anda. Coba kirimi dia email, pesan instan, pesan teks, tweets untuk mengingatkannya.

Jika Anda benar-benar kreatif dan perlu untuk menggambarkan sesuatu, cobalah menggunakan YouTube untuk menjelaskan maksud Anda kepada anak Anda. Misalnya, "Hai Sayang, di sini adalah cara yang tepat untuk melipat cucian dan merapikan lemari baju sendiri.”

Walau mungkin pesan ini tidak akan langsung dilakukannya, dia pasti menghargai usaha Anda.

Dekati anak

Terkadang orangtua sampai berteriak untuk memberitahu sesuatu kepada anak. Cara ini bisa jadi tidak memberikan pengaruh positif ke anak. Jadi, usahakan untuk berada setara dengan anak. Misalnya, berbicara secara perlahan namun tegas, atau merendahkan tubuh Anda agar dia merasa mendapatkan perhatian. Cara ini baik sekali untuk mendorong anak mau mendengarkan nasihat Anda.

Teman berkhayal

Anak kecil menyukai dunia imajinasi. Mereka bisa asyik sendiri dengan boneka dan mainannya. Mereka bisa berbicara, tertawa, atau bersikap seolah-olah sedang bersedih bersama mainan kesayangannya. Berbicara dengan mereka 'melalui' mainan dapat menembus jauh lebih dalam ke diri anak.

Memotivasi

Anak, biasanya akan merespon secara baik pesan dari orang tua yang disampaikan dalam bentuk humor. Misalnya, melalui suara yang konyol atau sambil menyanyi.

Untuk mencapai hasil yang baik, sangat penting untuk menjaga komunikasi dengan anak Anda secara terbuka dan mengalir. Anda perlu tahu apa saja mainan, kegiatan, persahabatan, dan apa saja yang paling memotivasi dirinya. (pet)


Sumber
VIVAnews

Benarkah Otak Orang Gemuk Lebih Kecil


Orang dengan obesitas, sesuai indeks massa tubuh, memiliki ukuran area otak tertentu yang lebih kecil dibandingkan orang dengan berat badan ideal.

Berdasar penelitian yang dilakukan terhadap 91 remaja, 54 di antaranya kategori gemuk, tingkat obesitas berhubungan dengan ukuran suatu wilayah di otak yang terlibat dalam perilaku impulsif dan kontrol diri.

Proporsi area yang lebih besar terlihat di otak mereka yang memiliki berat badan ideal. Sedangkan proporsi lebih kecil terlihat di otak mereka yang memiliki berat badan berlebih.

Selain menjalani scan otak menggunakan pemindai MRI, semua partisipan diminta menjawab pertanyaan melalui kuesioner mengenai pola makan harian. Selain itu, mereka juga diminta menjalani serangkaian tes kognitif untuk mengevaluasi kondisi area otak tertentu.

Para peneliti kemudian mencoba membalik logika. Mereka berusaha melihat kemungkinan adanya hubungan ukuran proporsi otak dengan pola makan dan gangguan kesehatan yang biasa dialami pederita obesitas.

"Tapi temuan ini tidak sesederhana bahwa anak-anak dengan masalah berat badan tidak memiliki keinginan kuat untuk menurunkan berat badan," kata Dr Antonio Convit, salah satu peneliti studi, kepada LiveScience. "Ini hanya menunjukkan kaitan, bukan sebab akibat."

Convit mengatakan, obesitas mungkin memicu pengecilan area tertentu pada otak sehingga mengacaukan kontrol konsumsi makan.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan University of California menunjukkan bahwa obesitas membuat otak mengerut. Temuan itu kemudian digunakan untuk menganalisis hubungan antara obesitas dan tingkat risiko Alzheimer atau kepikunan. (pet)


Sumber
VIVAnews

Kapan Pria Perlu Waspada Kanker Payudara

Tak hanya wanita, pria juga bisa mengembangkan kanker payudara, dan perawatannya bisa jauh lebih kompleks jika didiagnosis pada stadium lanjut.

Seperti halnya wanita, pria pun harus rutin melakukan pemeriksaan dini payudara. Sebab, menurut Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YPKJ), Dr Sutjipto SpB(K)Onk mengatakan bahwa pria harus waspada, jika kelenjar air susu pada pria tidak berhenti hingga usianya mencapai 20 tahun.

"Pria juga punya kelenjar air susu, layaknya wanita. Namun, kebanyakan produksi kelenjar susu akan terhenti hingga usia pria mencapai 20-an. Tapi, jika produksi kelenjar susu tak terhenti, inilah yang bisa menyebabkan kanker payudara pada pria," katanya saat ditemui di acara Levi's Breast Cancer Campaign beberapa waktu lalu.

Sama halnya dengan Sutjipto, informasi dari situs Times of India juga menyatakan bahwa kebanyakan pria seringkali mengabaikan kanker payudara yang juga bisa menimpanya. Meski jarang terjadi namun menurut Ahli Onkologi Bedah di Rumah Sakit Apollo, Sameer Kaul menyatakan, dari kebanyakan kasus, pria rentan mengalami kanker payudara setelah usia 40 tahun. Hal ini bisa terjadi karena pria juga memiliki nodul atau benjolan pada payudara, dan ketidakseimbangan hormon setelah usia 40 dapat menyebabkan kanker payudara.

Untuk setiap 100 kasus kanker payudara, 99 terlihat pada wanita dan 1 pada pria.

"Sel-sel kanker juga dapat berkembang dalam jaringan payudara pria. Masalahnya, tumor lebih awal menyebar ke bagian tubuh lainnya karena ukuran payudara pria yang kecil," kata Kaul menambahkan.

Rasa takut dan keraguan pada pria untuk memeriksakan diri menjadi penyebab masalah kanker payudara pada pria perlu mendapatkan perhatian khusus.

Diagnosis dan pengobatan pasien kanker payudara pria tergolong sama dengan wanita. "Perlakuan mungkin sama, termasuk kemoterapi atau operasi pengangkatan tumor, tergantung pada tahap diagnosis," kata Rudra Acharya, onkologi bedah di Artemis Health Institute, Gurgaon.

Gejala kanker payudara, antara lain pembengkakan di daerah payudara, pembentukan nanah, dan benjolan di ketiak atau wilayah payudara. "Mamografi tidak banyak membantu karena payudara berukuran kecil sehingga sulit terdeteksi. Namun, CT scan dan USG adalah pilihan yang lebih baik," ujar Acharya menjelaskan.


Sumber
VIVAnews

Olahraga Bibir

Siapa bilang olahraga hanya untuk tubuh? Latihan fisik pada bibir ternyata juga penting untuk menjaga keindahannya, bak bibir Angelina Jolie.

Olahraga bibir bisa dimulai dengan merapatkan mulut dalam kondisi relaks. Berikut beberapa gerakan yang bisa Anda coba, seperti dikutip dari laman Times of India.

Langkah 1

Tanpa membuka katupan bibir, tersenyumlah selebar mungkin selama sekitar 15 detik. Lalu, 15 menit berikutnya adalah, kerucutkan bibir ke arah depan seperti hendak mencium sesuatu. Ulangi rangkaian gerakan ini 10 kali.

Langkah 2

Selanjutnya adalah lakukan gerakan saling menekan antara dua bibir yang terkatup. Dalam kondisi itu, gerakkan katupan bibir yang masih saling menekan ke arah hidung. Tahan gerakan ini selama lima detik. Relaks, dan ulangi 10 kali.

Langkah 3

Kerucutkan bibir seperti hendak mencium. Dalam posisi seperti itu, tarik bibir perlahan ke dalam mulut hingga daging di pipi ikut tertarik masuk. Tahan setiap gerakan 10 detik. Ulangi lima kali.

Langkah 4

Lakukan pendinginan dengan merelakskan bibir. Ambil napas dengan mulut perlahan, lalu keluarkan udara dengan sedikit hentakan melalui mulut. Lakukan gerakan ini lima kali.

Langkah 5

Dalam posisi duduk, biarkan bibir sedikit terbuka natural. Biarkan bibir atas bergerak ke atas menempel ke hidung. Tahan posisi ini 10 detik. Ulangi sebanyak lima kali.

Langkah 6

Masih dalam rangka relaksasi. Ambil napas perlahan dengan mulut. Lalu, keluarkan udara dengan bibir membulat sambil menggembungkan pipi, seperti ketika hendak meniup lilin. Hembuskan napas dalam 2-3 hitungan.

Langkah 7

Buka mulut sambil relaks, lalu katupkan kembali. Ikuti dengan gerakan menarik bibir yang terkatup ke samping kanan dan kiri. Lakukan rangkaian gerakan ini lima kali. (pet)


Sumber
VIVAnews